Sepuluh hari sebelum deadline pengiriman naskah lomba menulis, naskah buku saya masih kurang 50 halaman. Sedangkan ketentuan lomba menulis yang diadakan oleh CV Brilliant Internasional Surabaya itu,
standar minimal naskah adalah 100 halaman. Hal itu terjadi karena keikutsertaan dalam lomba itu hanya untuk mencoba sehingga saya mempunyai prinsip sak tekane sak nyandake. ditambah aktivitas guru di sekolah sudah mulai aktif untuk menyusun pembelajaran on line di tahun pelajaran baru membuat saya harus berbagi waktu dengan mengerjakan tugas sekolah.
Hari itu itu saya Zoom meeting dengan Pak Agus Wijaya untuk konsultasi naskah. Saat itu saya melihat naskah Dr. Otong Surasman MA sudah selesai. Beliau tinggal membenahi hal-hal kecil yang masih terlewatkan seperti penggunaan tanda titik, tanda koma, penggunaan huruf kapital dan spasi yang berubah menjadi lebih besar. Nama dan wajah Dr. Otong sudah tidak asing bagi saya karena saya sudah sering bertemu dengan Beliau di acara cara Zoom meeting IRo Society.
Saat itu Pak Agus menjelaskan bahwa naskah saya masih sangat kurang apalagi pada daftar pustaka. Semakin banyak daftar pustska, sebuah buku akan bernilai semakin baik, begitu Pak Agus memberi penjelasan. Pak Agus kemudian memberikan contoh buku yang Beliau tulis. Beliau mengatakan buku itu ditulis menggunakan 60 daftar pustaka. Beliau menambahkan bahwa seorang penulis buku artinya adalah seorang pembaca buku yang hebat. Karena kondisi naskah saya masih kurang banyak artinya dalam 1 hari saya harus menambah 5 halaman agar naskah saya memenuhi standar minimal sampai saat pengiriman naskah.
Zoom meeting dengan Pak Agus hari itu membuat saya mengubah prinsip dari saktekane saknyandake menjadi sebuah ambisi bahwa pada tanggal 15 Juli 2020 pukul 00.00 naskah buku saya harus saya kirimkan. Mulai hari itu setiap hari saya menyelesaikan naskah buku dengan mencari sumber referensi yang mendukung tema buku saya. Hampir tiap malam dengan sangat ringannya saya bangun pukul 03.00 bahkan terkadang terbangun pukul 02.00. Setelah melakukan salat malam saya melanjutkan menulis, mencari referensi yang dapat mendukung tema yang akan saya tulis. Kegiatan itu berlanjut sampai pagi hari bahkan sampai siang karena saat itu sekolah belum mewajibkan guru masuk. Saya sengaja hanya memasak nasi sedangkan sayur dan lauknya membeli agar menghemat waktu. Setelah membuatkan minum untuk suami dan membereskan rumah sekadarnya, saya pun mulai menulis lagi. Kegiatan itu rutin saya lakukan sampai hari kemarin.
Salah satu yang membuat saya sangat bersemangat untuk menyelesaikan naskah buku adalah bimbingan Pak Agus. Pak Agus Wijaya dengan penuh dedikasi dan keikhlasan membimbing setiap peserta setiap saat untuk mengkonsultasikan naskahnya. Bahkan, Pak Agus pernah merevieu naskah buku saya di Zoom meeting selama 3 jam lebih karena saat itu tidak ada peserta lain yang mengkonsultasikan naskahnya. Semabgat saya sekaligus sebagai ucapan terimakasih tidak terhingga kepada Bapak Agus Wijaya.
Saya masih sangat bersemangat membenahi naskah, namun karena waktu perpanjangan sudah habis, maka tadi malam pukul 19 30 naskah buku, saya kirimkan via email ke Merdeka menulis. Meskipun sebenarnya masih banyak yang harus saya benahu.Saya sangat bersyukur karena suami saya mengingatkan apakah naskah saya sudah dikirim atau belum, suami saya mengatakan bahwa tanggal 15 Juni pukul 00.00. adalah tadi malam bukan nanti malam. Kalau tidak diingatkan suami saya akan mengirim naskah nanti malam. Saya masih berharap hari ini Pak Agus membuka Zoom meeting yang terakhir.
Tidak menjadi masalah bagi saya apakah saat pengumuman nanti saya menjadi pemenang atau tidak di dalam lomba itu. Saya merasa telah menjadi pemenang. menang di dalam mengalahkan rasa ragu-ragu, menang di dalam mengalahkan rasa minder, menang di dalam mengalahkan kemalasan-kemalasan saya.
Meskipun buku saya nanti tidak menang, saya sangat berharap buku itu dapat diterbitkan saya akan membenahi lagi sehingga buku saya bermanfaat untuk semua orang terutama guru dan orang tua.
————–
Colomadu, 15 Juli 2020
25 Dzulqaidah 1441
