Menyuruh orang untuk menulis itu seperti mendorong gerbong kereta api, namun begitu sudah berjalan sangat sulit untuk dihentikan”
Kalimat analogi itu ditulis oleh Prof.Dr. Eng.Imam Robandi di dalam buku Beliau Be a Writer. Saya sudah membuktikan bahwa kalimat itu benar. Saya adalah sebuah gerbong kereta api, namun bukan gerbong kereta api yang sulit didorong. Saya adalah sebuah gerbong kereta api bergerak yang sudah sulit untuk dihentikan.
Semangat untuk menulis saya sangat tidak terbendung. Bahkan, saat ini kegiatan menulis merupakan kegiatan yang paling saya sukai. Sehingga belum ada 3 bulan usia keanggotaan saya di IRo Society, saya telah menghasilkan karya dua buah buku. Saya sendiri sebetulnya heran mengapa saya seperti terkena sihir di _IRo Society,_sihir untuk terus menulis.
Setelah saya merasakan dan mengamati “sihir itu adalah terletak pada founder and owner Society, Prof. Imam Robandi. Beliau adalah sosok yang sepi ing pamrih rame ing gawe, perbuatan Beliau sangat sesuai dengan apa yang diucapkan. Meskipun ikhlas adalah urusan pelaku dengan Allah SWT, namun dampaknya dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya.
IRo Society memang sebuah tempat yang lembab, sehingga spora sederhana seperti saya mampu tumbuh menjadi jamur. Meskipun tumbuhnya tidak sepesat jamur yang berasal dari spora yang unggul. Demikian pula kwalitas jamurnya tidak sebagus jamur yang berasal dari spora unggul.
Buku saya memang sederhana masih berisi tentang kejadian sehari-hari. Selain itu masih ada beberapa kalimat yang strukturnya kurang bagus dan beberapa kata salah ketik, khususnya di buku saya yang pertama. Saya tidak menyesal telah berani menerbitkan buku
meskipun masih banyak kesalahan. Kalimat Prof. Imam di dalam buku Be a Writer juga yang telah menginspirasi saya: “Banyak orang yang gagal menerbitkan buku karena mengejar kesempurnaan.”
Kesalahan-kesalahan yang ada akan saya gunakan sebagai bahan perbaikan untuk buku saya selanjutnya.
Saya bergembira dengan selesainya buku yang kedua ini, tapi sedikit kecewa karena di buku saya ada yang kurang yaitu tidak ada ulasan dari Prof. Imam. Saya baru menahu kalau penulis boleh meminta endorse kepada Prof. Imam dari Ibu Arum Dyah Ripdianti, sahabat saya yang menjadi perantara saya masuk ke IRo. Saya menjadi semakin yakin Prof. Imam berkenan ketika kemarin membaca bukunya Ibu Arik yang berjudul Ketika Tasbih Bersenandung, Prof. Imam memberikan ulasan di buku itu. Selain Prof. Imam, ada beberapa tokoh lain yang juga memberikan ulasan di buku Bu Arik.
Semoga di buku yang ketiga, tulisan saya semakin meningkat kualitasnya. Saya akan meminta kepada Prof. Imam Robandi untuk memberikan ulasan mengenai buku saya. Ulasan Prof. Imam tentu akan memberikan nilai lebih bagi buku saya, saya, dan sekolah saya, SD Muhammadiyah Program Unggulan Colomadu, Karanganyar.Semoga saya tetap menjadi sebuah gerbong kereta yang berjalan sehingga buku saya yang ketiga tidak hanya sekedar impian.
———-
Colomadu, 11 Juli 2020
19 Dzulqaidah 1441


