MEMANTASKAN DIRI
Tri Mulyani
Guru SD MPU
Colomadu, Karanganyar
——————–
Webinar IRo Society KSJM ( Kajian Spesial Jumat Malam) yang digelar tadi malam, 15 Januari 2021 adalah sangat luar biasa, jumlah pendaftar adalah sebanyak 250 orang dan yang masih bertahan hingga akhir acara pada pukul 23.48 adalah sebanyak 103 orang, padahal acars dimulai pukul 19.25 WIB
Webinar kali ini bertajuk SIMPOSIUM NASIONAL KETATATULISAN ARTIKEL DAN BUKU dengan tema _Menyerap Pengalaman Penulis Profesional IRo Society_
Selain Prof. Dr. Eng Imam Robandi sebagsi keynote speaker utama, acara itu juga menampilkan 27 penulis IRo Society, dan saya adalah salah satunya.
Saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan pengalaman belajar menulis pada urutan ke-12, setelah Bu Elly Jauharah dari Boyolali. Setelah menyaksiksn pemaparan para penulis sebelumnya, ternyata hanya saya, Ibu Umi Putri Ibalia dari Balikpapan, dan Bu Mardina dsri Bukittinggi yang tidak menggunakan Power Point di dalam memaparkan pengalaman. Bu Aprillia dari Tanah Laut pun sebenarnya telah membuat power poin, tetapi gagal tayang karena kendala sinyal. Saat memaparkan pengalamannya, beliau mematikan kamera video. Dari 27 penulis hanya satu orang yang absen tidak memaparkan pengalaman yaitu Bapak Daryono, Purbalingga.
Beberapa hari sebelumnya Bu Umi Putri Ibalia menelpon saya menanyakan apakah wajib menggunakan power point, saya memberikan jawaban durasi waktu untuk berbicara hanya maksimal 5 menit mungkin tidak cukup untuk menayangkan power poin sehingga saya pun tidak membuat, demikian juga Bu Umi. Ternyata para penulis lain menggunakan power poin namun hanya satu slide, sehingga waktu 5 menit cukup. Saya mempersiapkan diri dengan hanya menulis poin-poin yang akan saya sampaikan pada selembar kertas.
KSJM tadi malam merupakan kesempatan ketiga saya untuk berbicara di acara yang spektakuler ini. Kesempatan pertama adalah saat Prof. Imam Robandi menawarkan kepada para peserta untuk menyampaikan sesuatu, itu terjadi pada bulan Mei 2020. Saat itu saya menyampaikan kesan saya selama kurang lebih 2 bulan berada di IRo Society. Kesempatan kedua adalah pada KSJM tanggal 11 September 2020 saat saya diberi tugas oleh Prof. Imam untuk memberikan sambutan sebagai Organizing Committe.
Beberapa hari sebelum acara KSJM saya kaget ketika melihat leaflet yang diposting oleh Prof. Imam di WAG IRo Society karena ada nama saya tertulis di situ. Nama saya tertulis di urutan ke- 12 pada daftar 27 penulis profesional yang harus menyampaikan pengalamannya dalam belajar menulis. Saya merasa bangga, gembira dan bahagia, namun sejujurnya di dalam hati kecil saya ada pertanyaan apakah saya sudah pantas menyandang sebutan penulis profesional IRo Society. Kabar gembira itu saya sampaikan di WAG sekolah untuk menghimbau agar para guru mengikuti acara Zoom KSJM. Keberadaan saya di IRo Society dan dipilih oleh seorang profesor untuk berbicara di sebuah acara bergengsi ini tentu dapat menjadi brand di institusi saya, selain brand untuk saya sendiri.
Saya sungguh tidak menyangka mendapat kesempatan istimewa ini. Saya bergabung di IRo Society baru 10 bulan, namun saya telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, padahal saya belajar menulis mulai dari nol. IRo Society memang ibarat tempat lembab untuk bertumbuh spora jamur. IRo Society memberi peluang kepada siapa pun yang ingin maju. IRo Society adalah tempat untuk mewujudkan sesuatu yang menurut kebanyakan orang adalah mustahil menjadi tidak mustahil.
Kesempatan itu tentu tidak akan saya peroleh apabila 10 bulan yang lalu saya tidak berhasil melawan rasa minder. Hampir saja saya keluar dari _IRo Online Class_ salah satu grup WA IRo Society yang pertama kali saya ikuti, sebelum diremove oleh Prof. Imam ke Ichi Gumi dan kemudian ke San Gumi. Kemajuan yang saya capai sampai saat ini adalah bukan karena bakat, namun karena saya terus-menerus belajar, dan ini dapat dilakukan oleh siapa pun.
Kalau Bu Elly Jauharah dari Boyolali menganalogikan menulis adalah sama dengan memasak, saya menganalogikan menulis adalah seperti belajar menaik sepeda onthel. Semula takut untuk menaik, namun ketika berani mencoba dan sudah mampu menaik meskipun masih belak-belok, maka akan ketagihan. Belajar menulis harus dilakukan secara kontinyu karena jika tidak maka akan kaku, bahkan kemampuan yang sudah dicapai akan hilang, seperti saat sudah dapat menaik sepeda onthel, namun kemudian tidak menaik dalam waktu yang lama, maka akan merasa kagok jika harus menaik sepeda onthel lagi.
Ketika di awal bergabung di IRo Society saya pun merasa belum pantas disebut sebagai seorang penulis, namun saat ini saya memang betul-betul telah menjadi seorang penulis dan akan terus belajar. Saya telah disebut oleh Prof. Imam sebagai salah satu penulis profesional IRo Society, maka saya akan memantaskan diri dengan belajar dan terus menerus berkarya sehingga saya memang layak menyandang sebutan itu.
———————-
Colomadu, 3 J. Akhir 1442
16 Januari 2020



1 komentar untuk “MEMANTASKAN DIRI”
Sukses Ust.Tri, semoga segera terbit buku berikutnya.