MENDIDIK ANAK BERPENDIRIAN BUKAN ANAK IKUT-IKUTAN

By: Mukowim, S.Pd.I., M.Pd (Kepala Sekolah SD MPU Colomadu)

Ayah/bunda, sekarang kita hidup di zaman dunia digital dan dunia media sosial. Setiap orang memiliki media sosial. Dalam dunia media sosial, seseorang akan menjual hobi, kesenangan, ide, gaya hidup, ilmu, dan lain sebagainya. Ada orang yang menjadi influencer (Pembuat pengaruh) dan ada yang menjadi follower (pengikut).  Setiap kita dapat menjadi influencer dan setiap kita dapat menjadi follower. Yang harus menjadi pegangan hidup seorang muslim adalah ajaklah dalam kebaikan dan ikuti kebaikan, cegah orang dari keburukan dan tinggalkan keburukan. Sehingga Ketika kita menjadi influencer, maka ajaklah orang lain melakukan kebaikan dan cegah orang lain dari keburukan. Ketika kita menjadi follower, ikutilah kebaikan dan tinggalkan keburukan. Jangan sampai seorang muslim tidak memiliki pendirian yang kuat terhadap ajaran agamanya, sehingga hanya ikut-ikutan orang lain tanpa berpikir apakah yang diikuti itu baik atau buruk, dan tidak peduli halal haram.

Ayah/bunda, mendidik anak di era ini butuh pegangan yang kuat. Anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman saat kita masih kecil. Pergaulan anak kita sudah berbeda dengan pergaulan kita saat kecil. Orang tua memiliki kewajiban mendidik anak agar memiliki prinsip dan berpendirian dan bukan anak yang suka ikut-ikutan. Rasulullah pernah memberikan nasehat dan arahakan kepada para sahabatnya dan itu sejatinya juga nasehat dan arahan untuk kita semua. Beliau bersabda:

لَا يَكُنْ أَحَدُكُمْ إِمَّعَةً، يَقُولُ: أَنَا مَعَ النَّاسِ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنْتُ، وَإِنْ أَسَاءُوا أَسَأْتُ.

“Janganlah salah seorang di antara kalian menjadi imma’ah (orang yang ikut-ikutan dan  tidak punya pendirian) yang berkata: ‘Aku bersama orang banyak; jika mereka berbuat baik, aku pun berbuat baik; dan jika mereka berbuat buruk, aku pun berbuat buruk.”

Kemudian beliau melanjutkan nasehatnya dengan bersabda:

أَفَلَا تُوَطِّنُونَ أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا أَنْ تَجْتَنِبُوا إِسَاءَتَهُمْ

“ Mengapa kalian tidak meneguhkan diri, (yakni bertekad) jika orang berbuat baik, kalian pun berbuat baik; dan jika mereka berbuat buruk, kalian menjauhi keburukan mereka.”

Kata imma’ah إِمَّعَة  berasal dari akar kata مَعَ  (bersama), artinya orang yang selalu ikut-ikutan tanpa pendirian, tanpa prinsip, dan mudah terbawa arus.  Ibnu Atsir berkata: “Imma‘ah adalah orang yang tidak memiliki pendirian; ia selalu mengikuti siapa pun dalam pendapatnya.”(Ibn al-Atsīr, An-Nihāyah fī Gharīb al-Hadīth, jilid 1, hlm. 93, Beirut: Dār al-Ma‘ārif)

Hadits ini menegaskan bahwa seorang mukmin harus memiliki prinsip kebenaran yang tetap, tidak bergantung pada perilaku masyarakat. Imam al-Munawi menjelaskan: “Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus memiliki pendirian yang teguh di atas kebenaran, dan tidak mengikuti manusia dalam keburukan.” (Al-Munawi, Fayd al-Qadīr, jilid 5, hlm. 481, Beirut: Dār al-Ma‘rifah)

Hadits itu juga menegaskan Jangan ikut dalam dosa atau keburukan, meskipun semua orang melakukannya. Ibnu Rajab al-Hanbali menegaskan:

الْمُؤْمِنُ الصَّادِقُ لَا يَتَغَيَّرُ بِالنَّاسِ، بَلْ يَثْبُتُ عَلَى الْحَقِّ وَ إِنْ تَغَيَّرَ النَّاسُ عَنْهُ.

“Mukmin yang sejati tidak berubah karena manusia, tetapi tetap teguh di atas kebenaran, sekalipun manusia berubah darinya.”(Ibn Rajab, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, hlm. 276, Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1999)

Ayah/bunda, sekarang mari kita bawa hadits di atas ke ranah Pendidikan anak. Ada keterkaitan hadits di atas dengan pendidikan anak. Paling tidak ada 4 kaitan:

  1. Membangun Anak yang Berprinsip, Bukan Pengikut Arus

Hadits ini mengajarkan agar anak tidak menjadi “imma‘ah” — mudah terpengaruh teman, tren, atau tekanan sosial. Dalam pendidikan, ini disebut karakter “independent thinking” (berpikir mandiri). Nilai Pendidikan yang terkandung dalam hadits adalah ajarkan anak sejak dini untuk berkata dan bertindak karena benar, bukan karena “semua orang melakukannya”. Ajarkan prinsip: “Anak yang baik bukan yang selalu ikut teman, tetapi yang tahu kapan harus berkata tidak.”

Langkah Praktis yang dapat dilakukan di Sekolah Adalah Latih anak untuk mengemukakan pendapat sendiri dalam diskusi, saat terjadi perbedaan, guru membantu anak menimbang alasan benar–salah, bukan ikut-ikutan teman, dan gunakan kisah sahabat seperti Abdullah bin Mas‘ud atau Bilal bin Rabah sebagai teladan keteguhan prinsip.

  1. Menumbuhkan Keberanian Moral (Moral Courage)

Hadits ini menuntut anak berani berbeda dalam kebaikan.
Dalam psikologi pendidikan, ini disebut moral courage — keberanian untuk berbuat baik meski sendirian. Imam Al-Munāwī menulis: “Orang beriman harus teguh di atas kebenaran meski mayoritas menentangnya.”(Fayḍ al-Qadīr, jld. 5, hlm. 481)

Penerapan hadits dalam kehidupan sehari-hari misalnya saat teman menyontek, anak diajarkan untuk menolak walau sendirian, saat semua berbuat nakal, ia belajar menahan diri, dan guru menegaskan: “Kamu hebat bukan karena ikut-ikutan, tapi karena berani berbeda untuk kebaikan.”

  1. Mengajarkan Anak Menyaring Pengaruh Lingkungan

Bagian akhir hadits: “Jika mereka berbuat buruk, jauhilah keburukan mereka.” Ini sangat relevan dalam pendidikan modern, di mana anak terpapar media sosial, budaya populer, dan perilaku teman sebaya.

Pesan  Pendidikan yang terkandung dalam hadits di atas adalah: Tanamkan kemampuan filter moral, anak tahu mana yang pantas dan mana yang harus dijauhi. Latihan Praktis yang dapat dilakukan adalah guru dan orang tua mendiskusikan kasus nyata: konten viral, tren media sosial, perilaku teman, dan ajarkan anak menilai, bukan meniru.

  1. Menanamkan Tanggung Jawab Spiritual

Hadits ini juga melatih anak untuk memiliki kontrol diri (self control) — bagian dari adab nafsiyyah dalam Islam. Yaitu, anak menyadari bahwa kebaikan dan keburukan dipertanggungjawabkan kepada Allah, bukan kepada kelompok. Dalam Tarbiyatul Aulad fil Islam, Dr. Abdullah Nashih Ulwan menjelaskan: “Pendidikan iman menumbuhkan keberanian anak untuk tetap di jalan yang benar, sekalipun teman-temannya menyimpang.”
(‘Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil Islam, jld. 1, hlm. 348, Dār as-Salām, 2005)

 

Share this:
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Butuh Bantuan