Punakawan Liburan

Ustadz Andre (Awe) Wali Kelas 5

Senja menjelang malam, Semar menikmati kopi di teras rumah. Bagong asyik sendiri dengan hp nya di ruang keluarga. Kakaknya, Si Petruk baru saja keluar hang out bersama teman-temannya ke angkringan desa sebelah. Sedangkan si sulung, Gareng biasanya tengah malam baru pulang ke rumah. Petruk, Gareng, dan Bagong adalah anaknya Semar. Ketiga-tiganya masih sekolah. Gareng kelas 3 SMA, Petruk kelas 3 SMP, sedangkan Si Bagong masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6.

Bagong lama-lama mulai bosan. “Sudah libur, Gong?” tanya Semar membuyarkan kebosanannya. “Sudah, Pak.” jawab Bagong. Desember adalah momen liburan, tidak hanya bagi anak sekolah, tapi juga bagi sebagian pekerja lainnya. Hampir semua destinasi wisata penuh sesak oleh para wisatawan. Mereka melampiaskan kepenatan di dalam dirinya yang sudah berbulan-bulan mengendap. Mereka sekedar mencari angin segar, mengais kebahagian, dan berbagi rejeki dengan sesama.

Gareng dan Petruk pulang. Jarum jam berdetak mendekati tengah malam, Si Bungsu juga belum tidur. Bapaknya masih terpaku di teras rumah tanpa kata, entah isi kepalanya. Kopinya tinggal setengah cangkir, tambah pahit dan tidak lagi panas. Gareng dan Petruk masuk rumah menemani adiknya menonton TV. Acara favorit mereka adalah program berita.

Berjalan pelan, Semar bergabung dengan mereka, menyenderkan punggungnya yang sudah penuh dengan kerutan di kursi rotan. “Nak, kalian tidak liburan?” tanya Semar. “Liburan dong Pak.” jawab anak-anaknya penuh semangat. Liburan menjadi pilihan banyak orang ketika momen libur tiba. Orang-orang mengunjungi beragam tempat wisata demi kebutuhan batin mereka. Manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik atau lahir, tapi juga harus ingat nafkah batinnya. Banyak sekali spot-spot pilihan yang bisa dikunjungi, seperti, pantai, pegunungan, taman bermain dan lain sebagainya. Sambil menyimak berita di TV yang kebetulan tentang liburan juga, Semar langsung to the point bertanya ke anak-anaknya, “Kalian mau liburan ke mana?”

Si Bagong kaget. Dia yang daritadi sudah setengah mati menahan kantuk tiba-tiba siuman. “Kebetulan sekolah besok mau mengadakan kunjungan ke museum di pusat kota, Pak. Kita pakai dua armada bus, ditambah lagi dapat uang saku, tapi orang tua tidak boleh ikut” jawab Bagong dengan polosnya. Sambil tersenyum bapaknya menimpali, “Iya… iya… besok bapak tambahin uang sakunya.” “Horeeeeeee…… Thanks Dad, Bagong sudah mengantuk mau tidur dulu, selamat malam semua.” jawab Bagong sambil berlari kecil masuk kamarnya. “Sok Inggris Lo!” sahut Petruk sedikit kesal. “Hahahahahahahaha!” keluarga itu tertawa bahagia.

Gareng tidak mau kalah. “Saya besok mau hiking pak.” Gareng tiba-tiba menyela memecah tawa sambil menyiapkan tas carrier nya. Gareng di sekolahnya aktif di organisasi pecinta alam. Makanya dia memilih area gunung untuk menikmati liburannya. Ada beberapa gunung yang sudah ia takluk kan, seperti Gunung Lawu, Gunung Merbabu, dan lain sebagainya. Menurutnya, di gunung bisa memacu adrenalin, selain itu dia juga bisa menemukan ketenangan. “Alright, Bro” jawab Semar. “haaalaaaaaaahhhh, bapak malah ikut-ikutan Bagong sok Inggris.” Gerutu Petruk tambah kesal. “Bapak gini-gini juga jago ngomong Inggris, Truk. Lha besok kamu mau liburan ke mana?” jawab bapaknya.

Petruk ingin pergi ke pantai. “I want go to the beach.” Jawab Petruk sambil tertawa terbahak-bahak. “Hhhmmtt dasar bocah gemblung.” Timpal Semar sambil memukul kepala Petruk dengan remot TV pelan. Berbeda dengan kakak dan adiknya, Petruk memang suka bermain air. Dia juga kadang renang bersama teman-temannya. “Sudah jam 2 malam pak, ayo istirahat dulu.” Ajak Petruk. “Siap bos.” Jawab Semar sambil mematikan TV. Gareng pun juga tidak mau begadang sendirian. Ia pun pergi istirahat ke kamarnya untuk persiapan besok.

Gareng, Petruk, Bagong siap liburan. Pagi-pagi sekali mereka sudah ribut menyiapkan segala perlengkapannya. Bapaknya, Si Semar sudah sedari tadi menikmati segelas teh di teras rumah. Mereka pun menghampiri bapaknya untuk berpamitan. Sebelum pergi, tiba-tiba Gareng bertanya kepada bapaknya. “Pak, bapak tidak liburan?”. Semar hanya bisa tersenyum.

Semar sudah banyak pengalaman. Dia bukannya tidak mau liburan. Di usianya yang sudah senja sudah pasti banyak temapt pernah ia kunjungi. “Nak, bapak juga pernah muda seperti kalian. Bapak juga sering berlibur, sudah banyak tempat yang pernah bapak kunjungi, tapi ada satu tempat yang kadang bapak lupa untuk mengunjunginya.” Jawab Semar dengan tenang. “Tempat apa itu pak?” Gareng penasaran.

Kebijaksanaan Semar muncul. “Bapak sudah pernah ke pantai, gunung, taman bermain, bahkan ke luar negeri tapi ada satu tempat yang bapak jarang kunjungi, yaitu diri sendiri. Bapak ingin menyepi, ingin menyendiri, ingin berdamai dengan diri sendiri sambil bertanya siapa aku ini, kenapa aku ada di sini, apa yang aku cari dalam hidup ini, pokonya instropeksi diri bercermin pada diri sendiri. Bapak sudah selesai dengan kenikmatan dunia Nak.”

Gareng, Petruk, Bagong pun cuma bisa diam seribu bahasa. Mereka masih terlalu muda untuk memahami itu semua. Akhirnya, sebagai anak tertua, Gareng pun memberanikan diri memecah keheningan. “Ya sudah pak, kami berangkat dulu.” ”Assalamu’alaikum!” mereka bertiga berpamitan tidak lupa mencium tangan bapaknya. “Wa’alaikumsalam, jangan lupa oleh-olehnya ya, dan tetap eling lan waspada” Jawab Semar pelan sambil tersenyum.

Liburan itu penting. Manusia berperang dengan rutinitas yang padat setiap harinya. Tak ayal, banyak orang merasa stres dengan tekanan hidupnya. Makanya, kebutuhan hidup harus seimbang. Selain kebutuhan lahir, kebutuhan batin pun juga jangan sampai terlupakan. Berwisata termasuk salah satu kebutuhan manusia untuk memenuhi kebutuhan batinnya.

Kebahagiaan juga penting. Manusia merindukan kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Berwisata yang tujuan awalnya untuk refreshing dan mencari kebahagiaan, jangan sampai menjadi momen duka. Itulah mengapa pentingnya tetap waspada ketika berlibur ke suatu tempat. Kita harus pandai-pandai memilih tempat liburan dengan melihat situasi dan kondisi yang ada sekarang.

Kebahagiaan sejati lahir dari dalam. Banyak manusia sekarang ini merasa bahagia tapi hanya kebahagiaan semu. Bahagia yang tidak bertahan lama, karena sekarang ini semua hanya diukur dari sekadar materi semata. Maka tidak heran ukuran sukses sekarang hanya melihat dari banyaknya materi. Justru kebahagian dan ketenangan itulah sebenarnya kekayaan yang tidak ternilai harganya.

Berdamai dengan diri sendiri menjadi pilihan. Liburan tidak harus ke tempat-tempat wisata. Liburan mengunjungi diri sendiri juga penting, yaitu dengan ber muhasabah diri. Tidak ada salahnya kita coba. Kita tidak menarik diri dari lingkungan luar, hanya saja kita menyendiri, menyepi, instropeksi, bercermin sejenak secara mendalam mencari makna hidup yang lebih hakiki. Kita belajar mensyukuri segala ketetapan-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Kebahagian inilah yang nantinya insya Alloh bisa bertahan lama. Selamat berlibur dan selamat berbahagia.

WELLLLL DONE

Share this:
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

2 komentar untuk “Punakawan Liburan”

  1. Sebuah tulisan yang sangat menghibur dan bermakna sangat dalam. Ada satu tempat yang belum Bapak kunjungi, yaitu diri sendiri.
    Top markotop tulisannya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Butuh Bantuan