Penulis : Ustadzah An Nisa’ Miftahul Jannah, S.Pd
Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK adalah peserta didik yang mengalami hambatan fisik, intelektual, mental, emosi, atau sensorik sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus. Dalam pendidikan inklusif, apresiasi menjadi bagian penting agar mereka merasa diterima dan termotivasi untuk berkembang.
- Apresiasi sebagai Bentuk Pengakuan
Apresiasi kepada siswa ABK bukan didasari oleh rasa kasihan, melainkan pengakuan tulus terhadap usaha dan capaian mereka. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif menegaskan bahwa peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai kebutuhan dan kemampuannya. Maka, keberhasilan siswa dengan disleksia yang mampu membaca satu paragraf utuh, atau siswa dengan spektrum autisme yang berani menyampaikan pendapat, merupakan prestasi yang layak diapresiasi.
- Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas Pasal 10 menyatakan bahwa penyandang disabilitas berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus. Bagi siswa ABK, indikator kemajuan sering kali berupa hal yang tampak sederhana: mampu fokus 10 menit, mengantre dengan tertib, atau menulis nama sendiri. Penguatan positif terhadap proses ini membantu membangun konsep diri yang sehat.
- Pelibatan sebagai Apresiasi Tertinggi
UNESCO melalui Policy Guidelines on Inclusion in Education menyebutkan bahwa inklusi adalah proses untuk meningkatkan partisipasi siswa dan mengurangi eksklusi mereka dari budaya, kurikulum, dan komunitas sekolah. Memberikan peran kepada siswa ABK dalam kegiatan kelas, upacara, atau ekstrakurikuler sesuai minat dan kemampuannya adalah wujud apresiasi yang nyata. Keterlibatan tersebut menumbuhkan rasa memiliki dan diterima.
- Dampak bagi Seluruh Warga Sekolah
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menekankan bahwa pendidikan inklusif bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua peserta didik. Ketika sekolah konsisten mengapresiasi keberagaman, siswa lain juga belajar empati, toleransi, dan kerja sama. Dengan demikian, apresiasi kepada siswa ABK sekaligus membentuk karakter positif bagi seluruh ekosistem sekolah.
Penutup
Apresiasi kepada siswa ABK adalah pemenuhan hak sekaligus strategi pendidikan. Dengan pengakuan, pelibatan, dan penguatan positif, sekolah membantu setiap anak berkembang sesuai potensinya. Sebab pada dasarnya, setiap anak istimewa dan berhak mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh percaya diri.