*SERBA SERBI WLS (Wisata Literasi Siswa)*
Oleh:Tri Mulyani
Guru SD MPU
Colomadu, Karanganyar
Ayahku
hari hari ayahku bekerja
hari minggu jalan-jalan ke Pantai
kalau main tanpa Ayah tidak senang
tapi kalau main sama ayah lebih menyenangkan
tanpa ayah rasanya hidupku hancur
tapi kalau ada ayah hidupku seperti karang
selalu bergandengan tidak pernah putus
Ada ayah Aku sangat senang
Kapanpun- dimanapun Aku berada
Ayahku lebih berharga daripada
emas & perak berapa pun harganya
Jutaan, minyaran, triliunan, dan lebih pun
Ayahku lebih berharga
Aku ingin ayahku hidup terus
menemaniku sampai aku punya cucu
dan terus ke generasi sampai Aku
Punya cucu ke 5
Puisi di atas ditulis oleh Al Farabi, siswa kelas 3 di SD tempat saya mengajar, SD MPU Colomadu, Karanganyar. Pada tanggal 13 September 2021 adalah kegiatan Wisata Literasi Siswa untuk kelas 3. Para siswa diwajibkan menulis puisi sebanyak 8 sampai 12 kalimat dengan memilih salah satu tema yang telah ditentukan yaitu guru, keluarga, atau persahabatan.
Setelah kegiatan selesai wali kelas mengumpulkan puisi yang telah ditulis oleh para siswa dalam selembar kertas kepada saya. Puisi-puisi itu saya seleksi kemudian saya ketik dan setelah selesai harus saya kirim ke FIM Pusat. Kegiatan Wisata Literasi Siswa adalah salah satu implementasi program Guru Motovator Literasi yang diselenggarakan oleh Forum Indonesia Menulis (FIM)
Saat mengumpulkan ke saya, Ustadzah Tyas Aqrabu Rahmaniah, Wali kelasnya AlFarabi menunjukkan sebuah kertas dan mengatakan bahwa ada sebuah puisi karya muridnya yang sangat bagus. Saya pun kemudian membacanya. Saya merasa terharu karena puisi itu betul-betul merupakan ungkapan perasaan hatinya.
Al Farabi telah kehilangan ibunya ketika dia duduk di kelas 2, belum ada satu tahun ibunya meninggal. Ibunya sakit sejak Al Farabi berusia 2 tahun. Al Farabi kecil menyaksikan ibunya berjuang melawan sakitnya. Hal itu membuat dia bertumbuh menjadi ansk yang mandiri.
Al Farabi sangat tidak ingin kehilangan ayahnya sebagaimana ia telah kehilangan ibunya. Dia sangat ingin agar ayahnya hidup terus agar dapat menemaninya sampai dia punya cucu, sampai ke generasi selanjutnya, bahkan sampai punya cucu kelima. Saat membaca kalimat terakhir ini saya tersenyum. Kalimat itu menampakkan sifat polos anak-anak.
Hasil kegiatan Wisata Literasi Siswa menunjukkan bahwa setiap anak mampu menulis, namun selama ini tidak pernah ada bukti berupa karya bahwa sebetulnya anak-anak adalah mampu berkarya. Hampir semua guru fokus pada materi pelajaran dan hasil akhir nilai-nilai di rapor. Mengutip kslimat mentri pendidikan, Nadiem Makarim dalam sambutan tertulis tentang Guru Motivator Literasi, beliau mengatakan :” Bukan hanya dengan membaca materi lalu diuji, namun juga untuk menciptakan karya. Oleh karena itu saya mempunyai motto untuk menciptakan suatu transformasi pembelajaran di dalam suatu ruang kelas maka harus banyak tanya, banyak coba, dan banyak karya.”
Semoga kalimat yang diucapkan oleh Nadiem Makarim dapat menginspirasi para guru untuk dapat membimbing para siswanya menghasilkan sebuah karya.
Semoga Wisata Literasi siswa yang telah dilaksanskan oleh siswa SD MPU dapat berlanjut untuk waktu yang akan datang.
———-
Colomadu, 17 September 2021

