Oleh : Ustadzah Tri Mulyani, S.Pd.Gr.
“Heeiii….! Bu Guru wis têka…!” teriak Rehan murid kelas 3 di sebuah Sekolah Dasar. Dia memberi perhatian kepada teman-temannya agar segera bergegas duduk di tempatnya. Bu gurunya, Bu Ika masuk kelas dengan tersenyum dan mengucapkan salam. Bu Ika kemudian mengapresiasi Rehan. Rehan adalah anak yang memiliki kepedulian, dia telah berinisiatif mengondisikan teman-temannya agar segera tertib. Bu Ika pun meminta murid-murid bertepuk tangan untuk Rehan.
Bu Ika kemudian menyampaikan bahwa bahasa yang digunakan Rehan adalah kurang tepat. Kalau menggunakan bahasa Jawa maka seharusnya bahasa Jawa krama. “Heiii…!. Bu Guru wis rawuh,” Bu Ika menjelaskan kepada murid-murid bahwa ucapan yang benar seperti itu. Jika mereka belum paham bahasa Jawa krama, sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia saja.
Mengajarkan akhlak, adab dan karakter kepada anak-anak diperlukan kepedulian, ketelatenan, dan konsisten. Kalau dari peristiwa yang dilakukan oleh Rehan, Bu Ika hanya diam saja maka murid-murid tidak pernah akan belajar bahasa yang benar. Murid-murid melakukan demikian karena mereka belum tahu dan belum pernah ada yang memberitahu.
Dalam peristiwa sehari-hari Bu Ika kadang menyaksikan, ada murid yang berbicara dengan guru menggunakan bahasa Jawa ngoko, namun guru yang diajak bicara tidak meluruskan bahasa atau tata krama yang seharusnya digunakan oleh sang murid. Jika demikian terus-menerus terjadi maka pendidikan akhlak, adab, dan karakter sulit terwujud.
Pendidikan adalah sebuah proses yang panjang. Kita tidak dapat berharap hari ini dinasehati besok atau dua tiga hari murid akan berubah. Menasehati diperlukan sikap juweh (berulang kali mengingatkan). Tidak menjadi masalah jika nasehat kita akan dipraktikkan oleh murid-murid nanti ketika mereka dewasa atau bahkan ketika mereka juga telah menjadi seorang guru. Hal yang lebih berharga adalah kita sudah menanamkan sebuah nilai kepada anak-anak.
Belajar dari sikap yang dilakukan oleh Bu Ika, beliau mengapresiasi dulu sebelum menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh Rehan adalah sebuah sikap yang patut dicontoh oleh semua guru. Setiap murid memiliki kelebihan dan kekurangan, namun kadang kelebihan-kelebihan kecil yang dimiliki oleh seorang murid jarang menjadi perhatian guru, sehingga lupa tidak diapresiasi. Padahal sebuah apresiasi kecil untuk seorang murid di hadapan teman-temannya adalah dapat menjadi sebuah motivasi yang sangat kuat.
Bu Ika mempunyai sebuah pengalaman. Di sebuah kelas yang lain, ada seorang murid bernama Budi. Di sekolah dia sering tampak tidak bersemangat dan mengantuk. Tugas-tugas yang diberikan oleh Bu Ika pun banyak yang tertinggal. Saat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung, Bu Ika mendekati murid tersebut dan bertanya mengapa dia sering lesu dan ngantuk di sekolah. Jawabnya adalah karena tidurnya terlalu malam. Bu Ika pun memberi nasihat agar Budi tidak tidur terlalu malam.
Pada hari yang lain saat KBM berlangsung, Budi mampu menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Bu Ika. Budi adalah satu-satunya murid di kelasnya yang berani tunjuk jari dan menjawab. Bu Ika pun mengapresiasi dengan ucapan dan meminta teman-teman sekelas bertepuk tangan untuk Budi. Apresiasi sederhana ini ternyata berdampak luar biasa. Sejak peristiwa itu Bu Ika memperhatikan banyak perubahan pada Budi. Dia menjadi sangat bersemangat pada pelajarannya. Tugas-tugas rumah yang diberikan pun tanpa diminta, selalu Budi kumpulkan.
Colomadu, 2 Oktober 2026
20 Rabi’ul Akhir 1448.
