Oleh: Ustadz Raosan Ma’ruf Rifa’i
Di ruang-ruang kelas, keluhan “Aku tidak bisa, Bu!” sering kali bergema saat anak dihadapkan pada materi yang baru dan terasa sulit bagi mereka. Fenomena ini bukan sekadar bentuk keputusasaan sesaat, melainkan cerminan dari pola pikir tetap (fixed mindset). Ketika anak melabeli dirinya “tidak bisa”, secara psikologis mereka menutup ruang bagi otaknya untuk mencari jalan keluar, menghentikan proses kognitif yang sebenarnya baru saja dimulai.
Dalam psikologi pendidikan, konsep growth mindset atau pola pikir bertumbuh menawarkan intervensi sederhana namun revolusioner: menambahkan kata “belum”. Mengubah persepsi dari “Aku tidak bisa” menjadi “Aku hanya belum bisa” secara akademis merombak cara otak merespons kegagalan. Kata “belum” mengindikasikan bahwa kemampuan bukanlah sebuah garis finis yang statis, melainkan sebuah kurva pembelajaran yang terus bergerak.
Kita bisa melihat fenomena ini secara nyata pada murid yang sedang berjuang, sebagai contoh seperti memahami pecahan matematika, merangkai kalimat dalam Bahasa Inggris, atau melakukan loncatan harimau pada Pelajaran PJOK. Sering kali, rasa frustrasi muncul bukan karena terlalu sulit secara absolut, tetapi karena mereka membandingkan kecepatan belajarnya dengan teman sebaya. Tekanan sosial di dalam kelas ini membuat anak merasa gagal sebelum benar-benar mencoba mengerahkan potensi maksimalnya.
Di sinilah peran esensial seorang pendidik hadir. Tugas guru tidak lagi terbatas pada proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi telah meluas menjadi arsitek ketahanan mental murid. Guru harus menjadi fasilitator yang sabar dalam menuntun anak untuk menyadari bahwa rasa bingung, kesalahan, ataupun kegagalan adalah bukti autentik bahwa mereka sedang belajar dan berproses, bukan bukti bahwa mereka tidak mampu.
Optimisme inilah yang selalu menjadi napas pendidikan di SD MPU Colomadu. Para guru di lingkungan sekolah ini secara konsisten menanamkan rasa percaya diri kepada setiap murid. Pendekatan pengajaran tidak hanya berfokus pada hasil akhir berupa nilai di atas kertas, tetapi pada apresiasi terhadap proses dan keringat yang telah diberikan oleh anak dalam usahanya memahami pelajaran.
Kami meyakini bahwa setiap anak memiliki ritme dan zona waktu perkembangannya masing-masing. Di SD MPU Colomadu, tertanam sebuah keyakinan kuat bahwa setiap anak murid pasti akan bisa pada waktunya. Pemahaman ini melepaskan anak dari tuntutan untuk menjadi sempurna secara instan, dan menggantinya dengan ruang aman untuk bertumbuh sesuai kapasitas individual mereka.
Pada akhirnya, pendidikan dasar adalah fondasi pembentukan karakter. Dengan terus menggaungkan narasi “Bukan Tidak Bisa, Kamu Hanya Belum Bisa, Semua Akan Bisa Pada Waktunya “, kita sedang membekali anak-anak dengan senjata paling ampuh untuk menghadapi tantangan di masa depan, yaitu “sikap pantang menyerah”. Keyakinan bahwa ketekunan selalu membuahkan hasil adalah warisan paling berharga yang bisa diberikan oleh seorang guru kepada murid-muridnya.
