Ayah, Bunda, buletin di edisi ini mengambil tema, “Membentuk pribadi anak berakhlaq mulia“. Mari kita baca dan renungkan bersama, sudahkah kita menjadi orangtua / guru yang sukses dalam membentuk akhlaq kita? Sudahkah kita bisa menjadi teladan yang baik dan benar bagi anak kita? Marilah kita renungkan bersama.
Ayah, Bunda, anak adalah amanah, anugerah, sekaligus cobaan bagi kita. Dia adalah titipan Illahi untuk kita sibghah menjadi generasi Rabbani. Karena anak pada hakikatnya adalah ibarat kertas putih, dan kitalah yang akan menaruh coretan diatasnya.
Hati siapa yang tidak merasa bahagia melihat anak sholeh. Anak yang senantiasa taat pada Alloh dan rasul-Nya, berbakti pada ibu bapak, lembut bertutur kata, bersikap sopan terhadap siapa saja, memiliki akidah yang membaja, ibadah selalu terjaga, berakhlak mulia, menjaga adab dimana dan kapan saja, mandiri, aktif dan kreatif. Sungguh itulah anak yang bisa menjadi Qurratul A’yun (penyejuk mata), penentram jiwa, dan itulah anak impian kita semua.
Tetapi, terkadang impian tidak selamanya sesuai dengan realita. Justru sebaliknya, kita mendapatinya sering membantah dan menentang, berkata kasar, enggan melakukan ibadah, sholat misalnya, sering melakukan tindakan tercela, adab dan akhlak tidak terjaga, jauh dari sikap sopan dan hormat terhadap siapa saja. Na’udzubillahimindzalik.
Ayah bunda sebagai orang tua dan orang-orang yang berkecimpung di dunia anak, kita harus memahami hakikat anak dan harus bisa menjadi guru yang terbaik bagi anak kita. Namun pertanyaan besar bagi kita adalah apa guru itu? Dan siapa guru anak kita?
Dalam Bahasa Jawa kita mengenal istilah guru yang berarti digugu lan ditiru. Digugu artinya diperhatikan, dianut, dan dipercaya ucapannya. Sedangkan ditiru artinya bisa dicontoh dan bisa diteladani perbuatannya. Jadi kata kunci pengertian guru adalah ucapan dan keteladanan.
Ayah bunda ucapan itu ada dua, yaitu ucapan yang baik (kalimah Thayyibah) dan ucapan yang buruk (kalimah Syayyiah). Demikian juga keteladanan, ada keteledanan baik (Uswah Hasanah) dan ada keteladanan buruk (Uswah Qabihah). Sehingga guru pun juga ada dua macam, guru baik dan guru buruk. Guru yang ucapannya baik tetapi keteladanannya buruk atau sebaliknya ucapannya jelek tetapi keteladanannya baik termasuk yang guru buruk. Apalagi guru yang ucapannya dan keteladanannya buruk, ini guru yang paling buruk. Sedangkan guru baik adalah guru yang ucapan dan keteladanannya baik.
Teman bermain dan tetangga harus menjadi guru yang baik. Televisi, radio, vidio, tape, buku, majalah dan selainya harus menjadi guru yang baik bagi anak kita. Jangan sampai media – media tersebut tadi menjadi guru yang buruk bagi anak kita.
Ayah bunda coba kita fikirkan, mendidik akhlak anak itu ibarat membangun gedung mewah. Dibutuhkan banyak tenaga ahli untuk membangunnya, tidak cukup hanya satu tenaga. Begitu juga mendidik anak itu dibutuhkan banyak guru yang baik. Sebaliknya untuk merobohkan gedung mewah tidak butuh banyak tenaga, satu orang pun cukup. Begitu juga merusak akhlak anak itu tidak butuh banyak guru. Satu orang pun bisa merusak anak kita. Sebagaimana kata – kata bijak di bawah ini :
Kapankah akan sempurna suatu bangunan
Jika engkau membangunnya sementara orang lain menghancurkan
Bila ada seribu orang yang membangun
Cukuplah dihancurkan satu orang penghancur
Lalu, bagaimana jadinya jika satu orang yang membangun, Sedangkan di belakangnya ada seribu orang penghancur ?
Ayah, bunda, kewajiban kita adalah menjadi guru dan mencarikan guru yang baik untuk anak kita. Guru yang memadukan antara Kalimah thayyibah dan Uswah Hasanah. Sudahkah kita sebagai orang tua dan guru menjadi guru yang baik untuk untuk anak dan murid kita?
“ Barang siapa yang tidak memiliki guru , maka gurunya adalah syetan”
Ayah, Bunda Selain faktor guru, terbentuknya akhlaq anak kita juga dipengaruhi oleh 2 faktor berikut ini :
1. Keluarga
Ayah bunda pendidikan anak yang pertama dan utama adalah keluarga. Bagi orang tua, anak adalah penyejuk hati dan pelengkap jiwa yang tidak dapat terbeli oleh apapun. Anak juga merupakan titipan Allah subhanahu wa ta’ala yang wajib untuk dijaga dibina dengan baik.Orang tua adalah lingkungan pertama yang mempengaruhi perkembangan akhlak anak.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Nasrani, Yahudi atau Majusi.” (HR Bukhari).
Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu, berkata “Didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang tanggungjawabmu, apakah sudah kamu ajari anakmu, apakah sudah kamu didik anakmu dan kamu akan ditanya kebaikanmu kepadanya dan ketaatan anakmu kepadamu.”
2.Teman bergaul
Pergaulan dalam hidup bermasyarakat mempunyai peranan penting. Sebab pergaulan dapat mempengaruhi watak dan perilaku buah hati kita. Lewat pergaulan pula tingkah laku dan tabiat seseorang bisa berubah. Banyak contoh yang sering kita jumpai yang diakibatkan oleh karena pergaulan. Misalnya bergaul dengan orang-orang sholeh akan terbawa dengan kesholehan mereka. Begitu pula sebaliknya apabila buah hati kita bergaul dengan orang jahat atau tidak baik perbuatannya maka ia cenderung mengikuti apa yang mereka perbuat.
Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Orang itu mengikuti agama temannya. Maka hendaklah setiap dari kalian memperhatikan dengan siapakah dia berteman.”( HR.Abu Dawud dan Tirmidzi)
Ayah bunda lingkungan ataupun teman bergaul mempunyai pengaruh yang besar bagi pertumbuhan akhlaq buah hati kita. Marilah kita mencarikan lingkungan, sekolah maupun teman bergaul buah hati kita dengan sebaik baiknya. Oleh karena itu kita mesti selektif dalam memilihkan lingkungan maupun teman bergaul bagi buah hati kita. Demikian pula dalam memberikan proteksi terhadap anak atau keluarga kita. Berhati-hati perlu, karena salah pergaulan bisa berakibat buruk bagi kehidupan mereka di kemudian hari.
Seperti apakah pendidikan yang diberikan oleh guru, keluarga dan lingkungan kepada anak kita? Akhirnya mari kita perhatikan dan kita renungkan kata-kata bijak berikut ini:
- Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
- Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajarberkelahi
- Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia akan belajar gelisah
- Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia akan belajar menyesali diri
- Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia akan belajar rendah diri
- Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia akan belajar kedengkian
- Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia akan belajar merasa bersalah
- Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri
- Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai
- Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia akan belajar mencintai
- Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar mengenali tujuan
- Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia akan belajar kedermawaan
- Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia akan belajar kebenaran dan keadilan
- Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar menaruh kepercayaan
- Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam hidup
- Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia akan belajar berdamai dengan pikiran.
Kita berharap semoga anak-anak kita mendapat didikan yang mulia, sehingga kelak menjadi anak yang memiliki akhlak yang mulia pula.Amin.
