Penulis Ustadzah Dita Yuliana, S. Pd
Pentingnya menamakan dan memperkuat nilai-nilai karakter pada peserta didik didalam sebuah pendidikan, terutama penguatan pada siswa saat disekolah dasar. Dapat dikatakan bahwa agama berperan sebagai fondasi serta sebagai sarana untuk penerapan nilai-nilai tersebut. Penguatan aspek-aspek keagamaan ini bukan hanya bertujuan untuk membantu siswa dalam pertumbuhan pribadi secara keseluruhan, tetapi juga untuk mempersiapkan mereka agar bisa memberikan kontribusi yang baik di lingkungan sosial.(Judrah et al., 2024) Jelas bahwa di sekolah dasar, penilaian tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga oleh sikap atau perilaku siswa. Pendidikan agama berfungsi sebagai saranan transformasi mengubah pengetahuan dalam hal keagamaan (aspek kognitif), sebagai cara untuk mentransformasikan norma dan nilai-nilai moral demi membentuk sikap (aspek afektif), yang penting dalam mengatur perilaku (aspek psikomotorik) sehingga tercipta kepribadian yang utuh pada individu.(Ainiyah, 2013)
Di zaman sekarang yang dipenuhi oleh dampak budaya internasional dan perubahan sosial yang cepat, kebutuhan akan pendidikan yang berfokus pada penguatan nilai-nilai keagamaan semakin mendesak. Oleh sebab itu, pentingnya nilai-nilai keagamaan sangat berpengaruh dalam memperbaiki karakter anak-anak di sekolah dasar. Nilai-nilai keagamaan adalah inti dari nilai-nilai lainnya, yang berarti jika seseorang memiliki nilai keagamaan yang baik, maka hal itu akan mempengaruhi dan memberikan makna pada nilai-nilai yang lain. Seperti halnya nilai-nilai toleransi, kreativitas, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat nasionalisme, kecintaan terhadap tanah air, penghargaan terhadap prestasi, bersosialisasi/komunikatif, cinta damai, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sosial.(Safitri et al., 2023). Saat ini orang tua mempunyai kewajiban untuk mengawasi dan membimbing anak anaknya untuk selalu menjunjung tinggi nilai kebudayaan lokan sesuai aturan moral yang berlaku pada agama.
Guru dan orang tua yang tidak memperhatikan nilai-nilai agama, kemungkinan besar tidak akan mampu membentuk karakter anak yang baik, seperti kejujuran, keadilan, dan kerendahan hati. Orang tua merupakan pendidik yang paling penting di dalam rumah, sementara guru berperan sebagai pendidik formal yang akan menanamkan karakter di sekolah(Rochmawati, 2018). Pada dasarnya, nilai-nilai agama yang tertanam dalam diri anak akan menumbuhkan sikap religius dalam hidupnya. Namun, jika nilai-nilai religius tersebut lemah atau bahkan tidak ada dalam diri anak, kemungkinan besar akan muncul kekerasan di sekolah dan ketidakjujuran di kalangan siswa SD. Jadi, prinsip-prinsip agama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan karakter anak, jika tidak diteruskan hal ini sangat mungkin akan menimbulkan efek negatif terhadap pengembangan karakter, terutama bagi anak-anak di tingkat sekolah dasar yang bisa dianggap sebagai masa penyesuaian diri, dan merupakan waktu yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai agama dalam aktivitas sehari-hari, dengan pembiasaan yang dapat digunakan untuk membiasakan anak agar berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan ajaran agama.(Cahyaningrum et al., 2017).
Kurikulum secara resmi telah memasukkan pengembangan diri siswa yang berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan, namun pelaksanaannya belum memberikan hasil yang berarti dalam pembentukan identitas religius para siswa. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran, terutama di madrasah yang seharusnya berfungsi sebagai tempat untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan moral. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengenali faktor-faktor yang menghambat penguatan nilai-nilai religius serta mencari solusi untuk menghadapi tantangan tersebut, dengan harapan dapat meningkatkan pengembangan diri siswa secara menyeluruh.(Subasman et al., 2024)
Proses peningkatan nilai-nilai religious peserta didik di SD MPU gedongan menunjukkan bahwa menggabungkan prinsip-prinsip religius dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari sangat penting. Menghubungkan antara materi pelajaran agama dengan kegiatan sehari hari dilingkungan sekolah menjadikan peserta didik mempunyai kebiasaan yang baik, yang diiharapkan dapat diterapkan di lingkungan sosial di masyarakat. Untuk menjaga keonsistensi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari serta di sekolah, sekolah harus menggaris bawahi pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan nilai-nilai tersebut. Ini bisa dicapai dengan melibatkan peserta didik dalam acara seperti ibadah salat bersama dan berbagai kegiatan lain yang dirancang untuk memperkuat kesadaran keagamaan. Selain itu ada beberapa upaya sekolah dalam menanamkan nilai religious di lingkungan sekolah, diantaranya adalah:
- Salam dan berdoa
Kegiatan salam dan doa Bersama sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar di SD MPU menjadi suatu hal yang wajib dilaksanakan oleh seluruh peserta didik setiap harinya, hal ini dilakukan sebagai bentuk penanaman awal karakter religius siswa.(Kurniawan & Zawawi, 2017). Berdo’a bertujuan untuk membuat siswa menyadari betapa pentingnya melibatkan Tuhan dalam setiap tindakan. Di samping itu, mengucapkan salam dan berdo’a bertujuan agar pengetahuan yang diperoleh selama proses belajar menjadi lebih bermanfaat.
- Pengecekaan sholat lewat absensi
Penanaman nilai-nilai karakter religius dapat dilakukan melalui shalat dengan cara memeriksa shalat yang dicatat saat pengumpulan kehadiran siswa. Metode ini cukup efektif karena secara tidak langsung dapat menumbuhkan rasa malu pada siswa yang tidak jujur dalam meninggalkan shalat, sehingga menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab sebagai hamba serta memotivasi siswa untuk melaksanakannya. Selain membentuk karakter religius, shalat juga melatih siswa agar menjadi pribadi yang jujur, disiplin, percaya diri, dan bertanggung jawab. Selain itu ada police sholat yang bertugas untuk mencatat siswa yang bercanda dan gojek saat sholat, dan nanti setelah sholat akan di panggil dan diserakhkan kepada guru piket untuk mendapatkan sanksi yang mendidik. Sehingga ketertiban dan kedisplinan anak terbentuk dari kegiataan ini.
- Pembiasaan sholat dhuha
Pembiasaan merupakan tindakan yang dilakukan secara berulang ulang agar menjadi kebiasaan dan menanamkan sikap yang konsisten. Pendidikan melalui pembiasaan ini menjadi hal penting yang bertujuan untuk membangun karakter religius dalam diri siswa. Melalui pembiasaan ini siswa dapat memahami mana yang benar dan mana yang salah, merasakan serta dapat membedakan antara nilai yang baik dan yang buruk serta dapat menilai untuk melakukannya atau tidak. Oleh karena itu, perilaku yang dibentuk melalui pembiasaan akan menjadi bagian dari karakter.(Shoimah & Sulthoni, 2018).
Salah satu pembiysaan di SD MPU adalah melaksanakan sholat dhuha secara berjamaah dilanjutkan membaca doa dan wirid pagi petang setiap harinya dimasjid sekolah, yaitu dimulai dari pukul 07.00 – 07.30 WIB dan dzikir petang dilaksanakan ba’da sholat ashar. Dengan pembiasaan ini diharapkan seluruh peserta didik dapat melaksanakan sholat dhuha secara istiqomah, baik dilingkungan sekolahan maupun di rumah masing masing.
- Infaq
Infaq merupakan tindakan memberikan sebagian harta untuk tujuan sosial sesuai dengan ajaran Islam. Ini berarti selama proses tersebut, ada pengorbanan hak dan pemutusan kepemilikan sebagian harta agar dapat diberikan kepada mereka yang lebih memerlukan. Melalui infaq, siswa dilatih untuk memiliki rasa peduli sosial, mengembangkan sikap ikhlas, dan menanamkan rasa syukur dalam diri mereka. Di SD MPU infaq berjalan setiap hari dan akan disetorkan kebagian lazizmu setiap bulannya untuk kegiatan sosial.
- Nasehat
Dalam menanamkan nilai-nilai karakter religius diperlukan dorongan seperti nasehat. Nasehat berkaitan erat dengan penerapan kebijakan pengawasan dan pendampingan secara bersama. Tindakan ini penting dalam usaha membentuk karakter dengan memantau semua aktivitas, perilaku, dan percakapan siswa, baik saat belajar maupun di luar ruang kelas(Badry & Rahman, 2021). Supaya nilai nilai yang hendak diajarkan oleh guru dapat lebih mudah dipahami oleh siswa. Nasehat ini memiliki tujuan untuk memberikan pengingat dan membimbing siswa dalam bersikap dan bertindak. Selain guru memberi nasehat, para siswa dijadwalkan juga untuk memberikan muhadhoroh atau nasehat pendek didepan teman temannya setiap sehabis sholat dhuhur berjamaah. Dengan begitu para siswa didikik untuk berani dalam menyampaikan nasehat kepada sesama.
Penguatan Nilai Religiusitas terhadap Pengembangan Diri Siswa di SD MPU Gedongan colomadu menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai religiusitas memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan diri siswa. Penguatan nilai religiusitas di SD MPU Gedongan ini dilakukan melalui kegiatan seperti memulai kegiatan dengan berdoa, sholat berjamaah, nasehat nasehat,infaqdan pembiasaan perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengajaran aspek keagamaan secara teoretis, tetapi juga praktik nyata yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Peranan guru dan staf pendidikan sangat penting dalam mendukung dan memberikan contoh yang baik kepada siswa. Dengan berfungsi sebagai teladan, guru membantu dalam membangun kepribadian siswa yang berakhlak baik, berkarakter positif, dan dapat memperlihatkan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang diajarkan. Di samping itu, lingkungan sekolah yang mendukung serta bantuan dari keluarga di rumah semakin memperkuat keberhasilan dalam proses pembentukan karakter siswa yang beragama dan mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ainiyah, N. (2013). Pembentukan karakter melalui pendidikan agama Islam. Al-Ulum, 13(1), 25–38.
Badry, I. M. S., & Rahman, R. (2021). Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai Karakter Religius. An-Nuha, 1(4), 573–583.
Cahyaningrum, E. S., Sudaryanti, S., & Purwanto, N. A. (2017). Pengembangan nilai-nilai karakter anak usia dini melalui pembiasaan dan keteladanan. Jurnal Pendidikan Anak (WEBSITE INI SUDAH BERMIGRASI KE WEBSITE YANG BARU==> Https://Journal. Uny. Ac. Id/v3/Jpa), 6(2), 203–213.
Judrah, M., Arjum, A., Haeruddin, H., & Mustabsyirah, M. (2024). Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membangun Karakter Peserta Didik Upaya Penguatan Moral. Journal of Instructional and Development Researches, 4(1), 25–37.
Kurniawan, W. P., & Zawawi, M. A. (2017). Pengenalan permainan tradisional GOTENG (Gobak Sodor dan Bentengan) untuk membangun karakter siswa sekolah dasar kelas atas. Jurnal SPORTIF: Jurnal Penelitian Pembelajaran, 3(2), 128–141.
Rochmawati, N. (2018). Peran guru dan orang tua membentuk karakter jujur pada anak. Al-Fikri: Jurnal Studi Dan Penelitian Pendidikan Islam, 1(2), 1–12.
Safitri, L., Susanti, M., Anggun, C., Wahyuni, S., Yusmar, F., & Nuha, U. (2023). Penguatan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Ipa Pada Kurikulum Merdeka Untuk Membentuk Profil Pelajar Pancasila: Studi Literatur. Jurnal Muara Pendidikan, 8(1), 223–229.
Shoimah, L., & Sulthoni, S. (2018). dan Yerry Soepriyanto,“Menanamkan Pendidikan Karakter melalui Pembiasaan di Sekolah,.” Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan1, 2, 173–174.
Subasman, I., Widiantari, D., & Aliyyah, R. R. (2024). Dinamika kolaborasi dalam pendidikan karakter: Wawasan dari sekolah dasar tentang keterlibatan orang tua dan guru. Journal on Education, 6(2), 14983–14993.
